Home / Renungan / Akibat Fiksi
semrawut...

Akibat Fiksi

Tersebutlah seorang gadis imut yang suka sekali fiksi, semua bacaan sudah dikurasnya dan dianggapnya sebagai fiksi “What?!, dianggap Fiksi?”, dari tema filsafat hingga kuliner tak terlewatkan lalu ia hanya berkata “Ini semua hanya fiksi bagiku”. Bahkan nyaris kamus-kamus pun dianggapnya fiksi, “Sudahlah, segala goresan aksara adalah fiksi, tak perlu ada lagi pembagian-pembagiannya, semua bentuk huruf dari segala penjuru bumi ini hanyalah fiksi, karena bentuk itu lahir dari kreativitas yang sarat dengan fiksi, bukan begitu?”

“Apa maksudmu berkata begitu?” tanya teman sejawatnya yang lagi menikmati minuman dingin di kafe mall Kalibata.

“Tadi kamu sedang apa barusan?” tanya Zehra, gadis imut tersebut.

“Iya minum dong”

“Untuk apa kamu minum?”

“Yaelah untuk ilangin haus…”

“Kalau untuk menghilangkan haus artinya kamu tidak akan minum lagi, karena sudah menghilangkan haus, bukan begitu?” Diana bingung, Zehra mulai dengan gaya filosofnya.

“Aduh…jangan bikin bingung dong, kalau haus pasti minum, masa sih buang air..ngak layauww. ” Diana tak mau kalah.

“Apa yang kamu minum terus berulang lagi intinya apa sih?” Zehra makin nakal dengan pertanyaan-pertanyaan yang serasa ambigu

“Ya elah..untuk bertahan hiduplah”

“Lantas berapa lama hidup dan untuk apa hidup, kalau hanya pengulangan-pengulangan saja?, Sungguh ini semua adalah fiksi saja”

“Pucinggg…pala berbie.. apa sih maksud pertanyaanmu itu, kok ribet banget sih, untuk apa, apa-apa… aduh…” Diana tak tahan.

“Na, kalau kita tahu hidup ini tidak lama dan kekal lantas mengapa tidak mau mengakuinya bahwa sebenarnya hidup ini adalah fiksi, kalau memang kehidupan setelah dunia adalah kehidupan yang sebenarnya maka itulah yang bukan fiksi, Disanalah sebenarnya yang kenyataan yang senyata-nyata. Namun kalau kita melihat dunia ini bukan fiksi artinya inilah kehidupan yang paling nyata, tapi apa yang terjadi setelah beberapa tahun, beberapa abad?, satu per satu manusia berganti, entah manusia yang dulu pernah bercengkrama, berjuang, berteriak-teriak dan berperang, kini dimana mereka?. Kisah-kisah mereka yang kita baca apakah itu bukan fiksi?” Diana hanya menatap tajam Zehra.

“Oh…maksudnya kamu ingin menasehatiku?, bukan begitu?”

“Apakah bertanya dan memberikan argumen adalah nasehat?, aku rasa tidak, tapi ini hanya untuk dipikirkan saja. sebagaimana kalau aku mengatakan bahwa hidup ini adalah fiksi, maka marilah berpikir sama-sama, bukan begitu?”.

Tak lama kemudian…minuman Diana sudah seperempat gelas mau habis. Hape Androidnya berdering khas..

“Halo.. darling…” Diana memberi isyarat untuk minta waktu menerima telpon.

Panjang percakapan Diana ditelpon dan tiba-tiba cukup serius, Zehra seperti biasa kalau sedang menunggu sesuatu, ia  mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya, menelaah setiap huruf, kalimat demi kalimat dinikmatinya, dan hanyut bersama bacaan, meski sesekali mengecek hape, hanya untuk melihat apakah ada pesan yang masuk di group rahasianya. Kalau sudah begini sulit dihentikan, kalau bukan Zehra sendiri berhenti atau ada hal lain.

Tiba-tiba Diana menangis keras tersedu-sedu, hape yang dipegangnya nyaris dibuang, sontak Zehra kaget, kenikmatan membacanya terganggu, dia ingin marah tapi begitu Diana mendekat dan memeluknya seperti butuh curhatan, Zehra menjadi iba.

“Ada apa Na?, kok cengeng begitu.. ” tanya Zehra yang masih dijawab dengan tangisan.. setelah dibujuk akhirnya Diana menjawab.

“Hikz..hikz.. aku diputusin sama Tery…hikz..hikz.. , padahal kami sudah bersama lama, dan dia akan melamarku, hikz..hikz..”

“Ohh..itu toh.., masih ingat apa yang barusan kita bahas?”  Diana menatap Zehra, seperti ingin menangkap makna.

“Tujuan hidup?” jawab Diana sekenanya.

“Salah satunya, tapi tahukah kamu apa yang terjadi, yang kamu alami barusan itu?”

“Maksudmu apa sih Ra?” masih dengan wajah sedih.

“Apa yang kamu alami itu adalah fiksi saja. Hidup kita ini adalah fiksi, dan apa yang kamu alami akan berlalu, si Tery juga adalah fiksi, yang tak lama lagi dia jadi tua, peok, tak karuan keriputnya, batuk-batuk, dan yahh… Tahlilan” Diana mulai menampakkan keceriaan..

“Maksud kamu, kita tak perlu bersedih atas semua peristiwa ini?, karena akan berlalu, dan esoknya lain lagi ceritanya, mungkin bukan lagi Tery yang mau bertaruh denganku, tapi yang lebih oke dan lebih elegan?, jadi semua cerita yang dialami manusia adalah fiksi saja?, begitu kan?” Tanya Diana yang mulai tenang. Namun ia belum puas, kemudian menambahkan,

“Tapi ini kan yang merasakan aku, bukan kamu, jadi enak saja kamu bilang ini adalah fiksi” Proters Diana, yang disambut senyuman oleh Zehra.

“Betul kamu yang merasakannya, dan perasaan kita yang bercerita ini juga adalah fiksi, maka apakah aneh ada yang merasakan dan ada yang belum merasakan?” Diana mencoba mencerna maksud penjelasan Zehra.

“Baiklah…aku sudah paham, bahwa setiap manusia akan merasakan kesedihan, gitu kan?”

“Betul sekali”

“Dan aku mau lihat kamu merasakan suatu saat nanti kesedihan itu Zehra, aku ingin menyaksikannya!!! dan apakah tetap kamu berkata itu fiksi” Zehra hanya tersenyum.

“Semoga saja, tapi sekali lagi…itu semua fiksi, maka apapun yang terjadi tetaplah tersenyum”

Keduanya pun tersenyum.

About haerul said

Check Also

Berkah

Muhammad Rusli Malik (Penulis Tafsir Al-Barru) Kata berkah menyusul kata rahmat tidak cuma di dalam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *