Home / Renungan / Jejak Jiwa Dalam Syair
Tlah lama ku tak bersyair bagai ritme semilir kadang merambat desir di keriuhan suara nyinyir

Jejak Jiwa Dalam Syair

Tlah lama ku tak bersyair
bagai ritme semilir
kadang merambat desir
di keriuhan suara nyinyir

Akibat sang bujang mengandalkan puisi
lupa kunci pembuka hati
yang menyeruput hangatnya kopi
pahitnya seperti uji nyali
dan hanya melanggengkan persepsi

Puisi karat sudah tergerus
mengapa saja pembelaan tak becus
ketika bohong makin serius
pantas saja baunya ketus

*****
Jika puisi adalah kenangan, ia bagaikan merangkak kembali ke kenangan lama, jika puisi adalah syair yang diandalkan oleh seorang bujang, seharusnya ia bermetamorfosis saat telah status bujangannya pun usai, kalau saja ia kan punah, bisa saja puisi adalah syair jejaknya bahwa ia pernah ada diantara sekian milyar makhluk yang juga meninggalkan syair jejaknya…

Iya, jika saja puisi adalah lukisan jiwamu, seberapa kenyal tinta toleransi yang menjelaskan dan memaknai keberagaman hidup ini?

About haerul said

Check Also

Rahmat

*Muhammad Rusli Malik (Penulis Tafsir Al-Barru) Saking populernya kata ini sehingga banyak orang di masyarakat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *