Home / Renungan / Kajian Tentang Waktu; Edisi Tahun Baru

Kajian Tentang Waktu; Edisi Tahun Baru

Kami sudah berkumpul di rumah Bu Elly dari sehabis magrib meski beberapa orang masih otw, beliau sudah menyediakan tempat terbaik dan lengkap dengan kuliner yang begitu menggoda, yahh manusia seperti saya yang masih sangat tertarik dengan kuliner yang enak-enak dibuat terkapar-kapar, padahal sepulang dari bandara sudah ditraktir sama teman Bos menikmati kuliner jepang, sebutkan mereknya ya?, nggak usah ahh.. nggak ada royaltinya, hehehe. Masakan Bu Elly sungguh lebih terasa dengan sambal alami, kalau yang masakan luar negeri itu mungkin saja sambalnya menggunakan tartrazine Cl 19140 atau pewarna makanan atau sejenis lah serta pengawet, Mungkin saja (bukan tuduhan ya).

Yang disajikan bu Elly serba alami, terima kasih banyak Bu Elly telah bersedia menyediakan tempat dan kuliner yang enak, dan terima kasih juga kepada mereka yang ikut sumbangsih meski akhirnya ada yang tidak datang. Semoga Allah mencatatnya  berlipat ganda amal-amal Ibu Elly dan teman-teman,  Dan mari senantiasa  doakan bahagia dunia akhirat.. Ilahi aamiin. Dan paling khusus juga terimakasih kepada Ustad MRM beserta keluarga yang selama ini sudah meluangkan waktunya mengisi “ruang-ruang kering” jemaah yang haus akan ilmu-ilmu agama. Saya doakan panjang umur yang penuh berkah dan dirahmati sehingga kami pun terpercik rahmat itu, lalu tahu ke arah mana harus melangkah dan bagaimana melangkah di alam ruang waktu yang singkat ini dengan penuh amal berkualitas.

Pokoknya di malam tahun baru ini kuliner sangat terjamin belum lagi banyak kelebihan sehingga operasi plastik pun dilaksanakan (Bungkus banyak bawa pulang, lumayan bekal untuk 2 hari, hehehe), namun yang sangat penting adalah sajian rohani yang disampaikan Ustad MRM terkait dengan filosofi waktu, dan tentu saja mengenai hal itu Ustad merujuk ke Quran, kali ini surat Al-mu’minun (surat 23) dimulai ayat 99 sampai ke bawah hingga ayat 117, dan 118 adalah pelengkap atau doa semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan rahmat dengan tidak menyia-nyiakan waktu di dunia ini.

Betapa tidak, bisakah kita merenungi kembali apa yang telah kita lakukan selama tahun-tahun lalu?, masihkah kembang api yang katanya indah kilatan cahayanya tahun-tahun lalu sama dengan tahun yang baru ini dirayakan?, masihkah keramaian di jalan raya diisi oleh orang-orang yang sama tahun lalu? atau jangan-jangan yang dulu meramaikan jalan-jalan sebagian besar sudah di alam lain?, ataukah tidak lagi merayakannya karena alasan tertentu. artinya banyak perubahan yang cepat terjadi, kalender bisa berganti dan perayaan boleh mewah namun yang pasti dunia ini akan ditinggalkan.

Bukankah kita sering dapatkan berita kematian?, jadi batas waktu itu terus merapat hingga mencukupkan umur manusia, seperti yang dianalogikan Ustad dengan kedua tangan sebagai dinding waktu yang terus merapat hingga keduanya bertemu, begitulah waktu yang hakikatnya terus merambat, karena itulah di dalam Quran Allah bersumpah demi waktu, yang paling sering kita dengar adalah “Wal Ashr”, dan bukan cuma itu, Allah pun bersumpah dengan benda-benda langit, “Demi Bintang”…atau “Demi Matahari”, dan banyak hal terkait dengan waktu termasuk “Wadh-dhuha” atau demi waktu dhuha, maka betapa pentingnya memahami hakikat waktu itu. Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung dengan perpacuan waktu ini, yang ikut ngaji dan yang membaca tulisan ini, aamiin.

Dalam surat Al Mu’minum itu diinformasikan bahwa orang-orang yang ingkar kepada Allah itu ketika di akhirat meminta untuk dikembalikan di dunia dan berjanji akan melakukan kebaikan setelah dikembalikan, apakah mereka akan memenuhi janjinya kalau sekiranya dikembalikan?, tentulah Allah maha tahu sehingga apa yang diucapkan oleh orang-orang itu adalah kalimat buaian belaka atau dalih belaka (cari alasan saja). Mereka ibarat seperti residivis yang melakukan kejahatan lagi setelah dibebaskan.

Bayangkanlah jika terompet tahun baru malam itu berganti dengan terompet sangkakala?, terompet yang ditiup sebagai tanda hari kiamat, apa yang akan kita rasakan?, bukankah bencana yang pernah terjadi adalah gambaran kiamat kecil?, bagaimana kalau seisi dunia ini hancur?, Ya Allah…keselamatan dan harapan hanya padaMu. Maka itulah orang-orang beriman di dunia ini yang memahami hakikat waktu selalu berdoa dan beramal yang berkualifikasi, doanya meresap dan diaplikasikan ke dalam setiap geraknya, baginya hanyalah rahmat Allah yang diharapkan.

Beramal yang berkualifikasi tentunya bukan hal-hal kecil yang diributkan yang membuat umat “labil”, misalnya haramkah menggunakan terompet di malam tahun baru?, kalau haram harusnya malaikat peniup terompet sangkakala haram juga dong? atau meributkan tentang boleh tidaknya Qunut dalam shalat?.

Amal berkualifikasi diantaranya menstabilkan ekonomi umat sehingga umat bisa mendapatkan nafkah tapi tidak disibukkan dengan urusan dunia namun mampu menyeimbangkan akhiratnya, seperti adanya waktu bisa mengaji karena tidak dibelenggu oleh hanya mencari dunia semata. Nah, setahu saya amal seperti ini butuh ilmu manajemen tersendiri, bukan ilmu mengumpulkan massa semata, tapi manejemen mengolah sumber daya demi agama demi Allah, dan bukankah lebih baik banyak orang yang bisa masuk surga daripada mengusirnya?. Lalu bagaimana agar banyak orang bisa masuk surga dan tidak terlibat banyak dosa-dosa karena mengejar dunia semata?

Tentulah mengkaji Alquran dengan benar sebagai patokan utama adalah solusi, kecuali Al Quran dipaksa dalam arus politik tentu saja banyak terjadi kontradiksi dan perdebatan. Apakah para pembesar agama itu tahu bagaimana agar semua sendi kehidupan mengikuti petunjuk Quran?, bukannya malah berdebat?. Ahli agama pastilah kemungkinan besar tahu, namun niat keihklasannya disinilah yang membedakan dan  mungkin dari sini hadir disiplin ilmu tasawuf dan irfan sebagai jalan menuju yang hak.

Dalam berdagang tujuannya beruntung, dan dalam kehidupan ini manusia selalu mau untung, maka bagaimana kehidupan kita kelak di akhirat termasuk orang-orang yang beruntung?. Dalam ayat 102 surat 23 yang beruntung itu yang berat timbangannya, tentu yang dimaksud timbangan amal-amal kebaikannya, perumpaan yang diberikan ustad adalah dua kayu yaitu kayu apung dan kayu jati yang sama-sama ditaruh di air, maka yang berat timbangannya jelas bobot dan bebetnya. Amal pun begitu, dan dengan waktu yang sangat singkat ini apakah bisa memberatkan timbangan amal kita?, Duhh…tidur sehari 8 jam, kerja bisa sampai tengah malam bahkan begadang, apakah dengan keseharian ini bisa melejitkan nilai timbangan amal?, Ya Allah… Please help me… Ampunilah hamba.. :-‘((

Ayat berikutnya 103 digambarkan sangat mengerikan, orang-orang ingkar (kafir kepada Allah) kekal di dalam neraka jahannam… hikz…hikz.. Subuhanaka yaa Laailaha illa anta.. alghauts.. alghauts… khallisna minnanarr ya Rabb…  itulah kenapa malam ini juga kami melantungkan asma-asma Allah dan memohon ampun kepadaNya yang dipimpin langsung oleh Ustad, kami tak luput dari dosa… Dosa-dosa di tahun-tahun sebelumnya dan bisa saja akan melakukan dosa di tahun ini, dan hanya syafaat kami harapkan serta ampunan.  Ya Allah limpahkanlah selalu hidayahMu agar kami terus melaju dalam kebaikan dan semakin cinta pada NabiMu dan keluarganya serta sahabat-sahabatnya yang mulia.

Ayat-ayat Allah yang sering diperlihatkan, dibacakan, dan diperdengarkan adalah tanda yang jelas, itulah kenapa manusia dilengkapi dengan akal agar mampu menyelaminya, namun sayangnya banyak yang mendustakannya, sehingga masuk ke dalam golongan yang sesat dan hina… nauzubillah…Ssemoga kita tidak termasuk yang demikian…Ya Rabb.. Bahkan di ayat 108, Allah tidak mau berbicara dengan mereka. Apa jadinya jika sudah seperti itu?. bukankah kekasih sejati kita adalah Allah SWT, dan begitu sangat merana jika ditinggalkan oleh kekasih hati?, Ya Allah yang maha pengasih dan penyayang. Kekasih rangkul lah kami begitu erat, hanya padaMu tempat kembali, Engkaulah pemberi rahmat, ampunilah kami.

Ayat 111 juga sangat menarik, amal yang berkualitas itu juga adalah kesabaran, dan dengan kesabaran itu akan memperoleh kemenangan, insyaAllah, semoga kita dalam barisan orang-orang yang sabar. Sabar menghadapi ejekan karena kita dianggap berbeda? sabar dalam menyampaikan pendapat namun dianggap berselisih? dan sabar menapaki jenjang pelajaran misalnya pelajaran bahasa arab dasar (hadza kitabun..dst.) sampai terus menerus hingga insya Allah kelak sudah bisa baca koran terbitan timur tengah hingga membaca Quran dan berusaha memahaminya tanpa perlu lihat terjemahan Indonesia lagi. Dan dari situ terus berlanjut ke arah penafsir hanya karena Allah (Lillahi taala).

Karena waktu itu penting dan Allah telah bersumpah dengannya maka semoga dengan usaha belajar ini selalu dalam keberkahan.
Teman-teman jemaah…keep calm & tetap ngaji di Tebet. 🙂 ingat waktu yang begitu cepat berlalu.

Terkait hal itu, ayat 112-114 ada dialog Tuhan tentang waktu, yang ditanyakan berapa lama hidup di bumi?, tercengang jawabannya yaitu sebentar sekali. Apa yang bisa kita lakukan dengan waktu yang sangat singkat ini?. Menghabiskannya dengan nonton film kartun yang tak mendidik spiritual (agama)? Duh… atau jalan-jalan keliling dunia menikmati sajian peradaban yang akan tergilas waktu juga?. Tak ada yang bisa lari dari lingkupan waktu ini.

Disinggung juga dari hadist atau dari Quran bahwa sehari bagi malaikat adalah seribu tahun bagi manusia, wow… coba dikalkukasi, bagaimana dan apapun itu ternyata waktu kita di dunia adalah singkat, dengan kesadaran tinggi bisa dirasakan kesingkatan itu, hanya saja banyak orang-orang bergerak lambat, hikz..hikz.. Contohnya seperti saya masih lambat, misalnya dalam menulis ini sudah lewat acara tahun barunya dan baru sekarang bisa nulis. Ya Allah…ampunilah segala kelemahan dan keterbatasan ini ;-‘(

Maka penciptaan alam ini dan kehidupan manusia bukan main-main belaka, tujuan dan maksudnya jelas bagi kaum yang berpikir. Semua telah diberi akal dan sekarang pilihannya bagaimana menjalani hidup yang serius ini?. Kematian hanya sekali bukan seperti game digital yang matinya berulang-ulang, dan tidak ada pilihan kecuali bergerak dalam wilayah orang-orang yang beruntung, Kalau tidak pastilah termasuk orang-orang yang merugi dan tidak ada istilah jalur tengah atau tidak berpihak kemana-mana ataukah poros tengah. Dan tetap doa adalah senjata bagi orang-orang mukmin, itulah tradisi kita dalam mengisi waktu adalah selalu berdoa, dalam shalat dan setiap beraktivitas, harapannya semoga berkah dan rahmat Allah selalu menaungi, dan masuk ke dalam wilayah orang-orang beruntung. ilahi aamiin…

Sebagai pamungkas, ayat berikut ini juga sebagai doa dan adalah harapan kita menjalani tahun baru ini semoga tetap istiqamah menguatkan jiwa spiritualnya agar tidak tergelincir dan masuk perangkap-perangkap menyesatkan. Ya Allah lindungilah kami yang lemah ini… Duhai kekasih kami Al – Mustafa Muhammad SaW dan keluarga beliau…syafaitilah kami.

وَقُل رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرّٰحِمِينَ

“Dan katakanlah (Muhammad), “Ya Tuhanku, berilah ampunan dan (berilah) rahmat, Engkaulah pemberi rahmat yang terbaik.”” (QS. Al-Mu’minun: Ayat 118)

About haerul said

Check Also

Berkah

Muhammad Rusli Malik (Penulis Tafsir Al-Barru) Kata berkah menyusul kata rahmat tidak cuma di dalam …

One comment

  1. Aamiin. Semoga 2017 membawa berkah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *