Home / Opini / Lawan Hoax
Sudah sering saya mendapatkan broadcast yang diakhir kalimatnya diminta disebarkan, lantas kalau masalah agama ditambahin "Raih amal Shalih"

Lawan Hoax

Sudah sering saya mendapatkan broadcast yang diakhir kalimatnya diminta disebarkan, lantas kalau masalah agama ditambahin “Raih amal Shalih”, ini tiada lain agar orang-orang mau yakin dengan broadcast itu, lalu karena saking banyaknya hal-hal yang membodohkan itu maka bertambah pula ciri-ciri hoax itu, yaitu selalu minta disebarkan sebanyak-banyaknya. Padahal kita tahu kan masyarakat membutuhkan pendidikan dan uang untuk bertahan hidup, bukan broadcast yang sok relijius dan sok motivasi serta sok paling benar sejagad.

Dan apakah sudah ada penelitian berapa banyak sudah korban yang berjatuhan akibat berita Hoax?, termasuk orang-orang yang mengirimkan duit atau donasi dengan dalil agama dan ternyata dana yang terkumpul digunakan untuk perang?, tapi ternyata yang mendonasikan uangnya mungkin tidak mau tahu, cukuplah merasa sudah mendapatkan pahala, padahal sikap kritis masyarakat perlu agar jelas setiap persoalan, termasuk persoalan keyakinan dan agama serta hubungan agama dengan realitas sosial.

Sudah pasti Hoax begitu subur tersebar dan baru kali ini sudah banyak yang menyadari hingga syukurlah negara sudah menyikapinya dengan tegas, apakah para Hoax-er gemetar lututnya karena negara sudah serius akan menyikat habis mereka?, kalau menurut analisa saya sih, para hoaxers sudah seperti profesi, mereka hidup dengan menyebar hoax, mungkin dengan tanpa menyebar Hoax hidupnya gelisah, sebab di dalam pikirannya sudah dibentuk “Kabel-kabel semrawut” yang sehingga kalau ada pemandangan indah malah disikapi sebagai rekayasa iluminasi, atau dengan banyak istilah yang sok keren tapi sebenarnya memang hanya menggunakan ilmu cocoklogi.

Tapi kenapa masyarakat kebanyakan percaya ya?, yahh..masyarakat dengan kesibukannya mencari nafkah tentu waktu belajarnya atau mengkaji ilmu-ilmu bermanfaat sangat terbatas, lalu ditunjang dengan perangkat teknologi yang bisa dibelinya (terjangkau) maka masyarakat merasakan sudah ada media “Penyejuk jiwa” atau siraman kalbu, atau dengan bergabung beberapa group  whatsapp misalnya yang doyang copas maka mereka sudah merasakan menerima banyak manfaat, tapi apa dikata, ternyata itu semua “racun” yang mengoyak-ngoyak kalbu, virus pikiran yang menggusarkan, coba bayangkan kalau ada broadcast yang tanpa sensor menyajikan gambar-gambar atau foto-foto yang menyakitkan, misalnya foto korban perang dan foto-foto tindakan kriminal. Di tangan para Hoax-er semua gambar itu bisa digoreng dan dipakai untuk menyerang suatu kelompok atau bahkan perorangan atau juga kepada maszhab atau agama tertentu, lalu yang membacanya terpancing emosionalnya dan geram, lalu yahh.. bisa tercipta kekacauan.

Kok bisa ada orang yang kerjaannya menyebarkan Hoax ya?, apa tidak ada pekerjaan lain?, Nah ini juga pertanyaan yang perlu digaris bawahi, sebab jiwa manusia itu dinamis lalu jika jiwanya sulit untuk bersinergi dengan nilai-nilai keadilan maka bisa saja orang-orang ini akan melanggar nilai-nilai itu. apalagi kalau di”restui” oleh orang yang bergelar ulama misalnya maka pekerja Hoax malah lebih kencang pergerakannya, dan lebih asyik lagi kalau dicantumin hadis-hadis dan lagi-lagi semua itu menggunakan ilmu Cocoklogi, bahkan tak tanggung-tanggung sesuai pesanan melabrak siapa dan apa saja yang ada tanpa perlu lagi mengkaji lebih dalam apa yang sedang dilakukannya. Selama itu menyenangkan dan mendatangkan keuntungan pribadi yo weis tancep..

Banyak contoh hoax yang telah memenuhi gadget masyarakat, bagi yang agak cerdas langsung saja delete, tapi bagi yang merasa itu bermanfaat dengan semangat 45 ikut menyebarkan lalu mungkin dalam hatinya bergumam “Alhamdulillah top aku sudah menyebarkan manfaat, dan aku yang terdepan” tapi yahh.. karena ego-nya bermain seperti itu ingin terkenal dengan ikut menyebarkannya, namun sayangnya tidak terkenal juga, masyarakat hanya baca kontennya bukan si pengirimnya, maka dari itulah kenapa agak sulit melacak siapa pertama kali yang menyebarkan berita Hoax, apalagi jumlahnya sangat banyak, dan bayangkan broadcast yang sudah sangat lama kok bisa muncul lagi, misalnya tentang orang-orang thawaf di mekah bahwa begini begitu dst, atau katanya pemegang kunci pintu kabah Syekh ini itu yang ternyata namanya tidak ada dalam jajaran pengurus Haramain telah bermimpi bertemu Rasulullah, mmhh… amat banyak kebohongan yang terjadi dengan memakai baju agama. Bisa anda hitung?, yahh… bagaimana kita bisa melacak aliran dana yang sudah didonasikan?, foto serah terima masih bisa dimanipulasi, lalu gimana dong?, untuk urusan ini harus banyak yang turun tangan, kalau perlu yang di atas gunung juga turun gunung, artinya Negara sebagai Otoritas Keuangan dan Dana Masyarakat perlu dan wajib mengawasi lembaga atau badan yang mengumpulkan dana dari masyarakat. tapi saya sudah yakin negara diam-diam sudah melakukan itu, kita lihat saja nanti bagaimana kinerja negara saat ini dibawah kepemimpinan Bapak Jokowi, semoga semua para Pembohong dan Hoaxers tertangkap karena terbukti telah melakukan pembohongan publik, telah menyebarkan hoax yang merugikan masyakarat.

Ketahuilah para Hoaxer itu adalah makhluk yang tidak ada cinta dalam dadanya, kenapa bisa begitu?, yahh.. orang yang tidak memikirkan efek dari tindakannya yang merugikan adalah makhluk yang sebenarnya lebih besar kebencian dalam dadanya daripada besarnya cinta dalam dadanya, yang sebenarnya kalau cinta dalam dada itu besar maka bisa menjadikan dirinya bermanfaat buat negara, agama dan masyarakat pada umumnya.  Karena kebencian yang dirawat itu mereka lebih menyukai menjadi HOAX-ER daripada menjadi orang yang karena cintanya bergemuruh dalam dada turut serta mencerdaskan bangsa ini.

Kalau begitu mari berdoa ramai-ramai semoga para Hoax-ers itu makin berkurang dan lenyap di bumi ini, dan bumi ini dipenuhi para pecinta yang saling bahu membahu memanusiakan manusia, bukan sebagai penikmat HOAX yang MEMUAKKAN.

Salam TURN BACK HOAX,

LAWAN HOAX!!!

About haerul said

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *