Home / Renungan / Mabok
source gambar dari https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTPYGZI5t8IUSGIbUHuThgMJ8auABg591VIVVfL-il4zGDYiwhYcrDZis7

Mabok

Pada zaman dahulu seorang anak makassar yang masih kurang lancar berkomunikasi alias kalau ngomong pasti blepotan dan tidak sesuai harakat ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan. Jadi bahasa Isyarat lah yg menjadi andalannya, dan dengan kondisi itu ia menjadi pengamat yang ulung meski sering tersisihkan dari teman-temannya, banyak faktor kelemahan sehingga teman-temannya hanya secuil.

Lalu dia pun terdampar di lingkungan peracik tuak dan dedengkotnya. Ia sering memperhatikan dan mendengarkan obrolan para pemabuk itu, ada yang menarik dari obrolan itu..

“Halo cess.. kenapako suka mabok? (halo kawan kenapa suka mabok?)”..kata Si Baco dengan gaya sempoyongan tapi masih bisa mengenali temannya sesama pemabok.

“Aduh..bagaimana tidak mabuk ini masalah ini banyak sekali.. dgn minum masalah hilang sejenak..huahahaha” Sangkala teman si Baco tertawa terbahak-bahak dan Baco belum mendapatkan sisi lucunya pun terpaksa ikut tertawa. Yahh namanya juga mabok.

Begitulah dulu banyak orang yang terjerumus dengan hal-hal yang semu, mungkin karena masalah kenyamanan yang sulit didapatkannya bahkan di malam tahun baru, orang-orang semacam Sangkala dan Baco malah hiper mabok alias keterlaluan maboknya.

Kini anak yang sudah beranjak dewasa si pengamat tadi, mulai mendapatkan banyak masalah, mulai dipalak hingga terpaksa terlibat perkelahian yang tak seimbang alias dikeroyok.

Dia masih hidup, masih sempoyongan untuk bertahan, mungkin karena nalurinya yang kuat. Namun pada suatu titik puncak stressnya ia hampir saja menabrakkan diri di jalan raya yang ramai. Seketika jalanan pada waktu itu macet karena ulah anak ini, ia pun dimaki-maki…

“Saya mau mati kok mereka yang marah-marah dan usil..” selorohnya dalam hati waktu itu.

Bahkan ketika ia ingin meneguk banyak tuak, si peracik tuak menarik rambutnya dan menyeret kepalanya masuk ke dalam drum besar berisi air bekas cuci piring.

“Ada apa ini…siapa saya? mengapa harus seperti ini?, ” setetes demi setetes air matanya jatuh menyatu dengan bekas air cuci piring yang sengaja ditampung si pemilik warung demi menghemat air.

Sisa tenaga yang masih ada ia gunakan untuk bergerak, mencari tempat yang menurutnya cocok.

Di daerah kumuh yang sering terjadi perkelahian antar warga dan dengan menggunakan busur, yang direndam dengan isi dalam bateray merek ABC atau Alkaline sehingga efeknya jika kena kulit daging bisa beracun. Entah darimana ajaran ini bisa menyebar ke penduduk kampung yang kumuh dan padat serta sering ‘perang-perangan’ padahal tidak sedikit jumlah mesjid ada di kawasan ini.

“Oh…mungkin disini tempat saya bisa menemukan ajal…” gumam Si Pengamat dengan rasa putus asa karena kecewa dengan hidupnya.

“Daeng…kapan lagi perangnya?” tanya si Pengamat kepada jagoan kampung.

“Tunggu saja, kalau ada yang cari gara-gara, biasanya kalau malam habis mabok” Kata si Jagoan kampung lagi.

“Mabuk?… ” ia teringat kejadian beberapa waktu yang lalu.

Malam yang ditunggu-tunggu belum juga ada perang, si Pengamat ngantuk, ia berkeliling kampung untuk mencari tempat peristirahatan yang sekiranya nyaman, akhirnya langkahnya menggiringnya berada di teras rumah kost-kost-san mahasiswa-mahasiswi, nampaknya rumah kost-kost-an sangat menganut ideologi kebebasan.

Kantuknya terganggu, si pengamat mencoba menutup telinganya namun tetap saja suara-suara mahasiswa sedang berdebat hebat.

“Pahamilah saudara kenapa Socrates rela minum racun dan bunuh diri?, itu karena ia berada pada kebenaran, maka kebenaran itu sangat penting!.” Si Ridwan Mahasiswa semester 5 sedang mengajukan argumentasinya di teras malam itu, ia tak peduli suaranya yang keras mengganggu tetangga.

“Masa sih?, yakin Socrates?, bukannya si Plato atau Aristoles?, ahh..jangan-jangan kamu ngarang aja” Bantah si Agus Mahasiswa semester 3 di kampus yang sama dengan seniornya.

“Okelah.. kalau tak penting nama, namun saya yakin ada orang yang rela mati karena kebenaran yang diyakininya”

“Yakin?, kalau sekarang kamu kena busur dan mati apa rela?,” Agus meledek.

“Konyol!, itu bukan mati karena kebenaran tapi mati konyol, bodoh dan tidak ada yang diperjuangkan kecuali karena mengikuti provokasi dan kebodohan..” Beberapa warga sempat berpaling dan memandang sinis si Ridwan yang suaranya memang agak keras, namun untunglah si Agus tersenyum dan berkata..”Sorry Daeng…ini cuma bahas pelajaran pilsapat, biasalah anak kuliah yang sok pintar”
dan si Sinis pun berlalu.

Si anak Pengamat yang kumal itu sedari tadi sudah memperhatikan dan mengamati dengan seksama obrolan debat tadi.. dan dalam hatinya bergumam..

“Kalau saya mati, apakah saya mati karena kebenaran?, atau mati konyol?, kalau dulu seandainya saya ditabrak dijalan raya, saya mati karena apa?…, gimana sih itu orang yang telah mati dan kenapa harus mati?, lepas masalah?, kan kalau mati siapa lagi yang mau urus mayat ini?” banyak pertanyaan malam itu yang membuat si Pengamat terngiang-ngiang.

Keesokan harinya dengan gaya komunikasi yang masih blepotan juga si Pengamat memberanikan bertanya masalah se

malam kepada Ridwan.

Singkat cerita, si Ridwan menyarankan kepada si Pengamat keluar Makassar dan berkelana serta ia berujar “Cobalah mampir di Jogja, disana banyak orang-orang yang belajar filsafat”

Banyak cara yang ditempuh si Pengamat yang akhirnya sampailah di tanah Jawa. Plontang-planting dan terus saja menggembel di tanah ini, Ternyata kalau ia rapi sedikit dan belajar berkomunikasi itu cukup memudahkannya mendapatkan kepercayaan, dan tentunya bekerja, namun pada akhirnya si Pengamat sering gonta-ganti pekerjaan dan semakin liar.

Dari Jawa ia pun terseret ke Jakarta, tak disangka komunitas orang makassar juga banyak, mungkin sama dengan komunitas Batak.

Lagi-lagi singkat cerita, si Pengamat masih bisa hidup dan bisa ketemu jodoh di Jakarta, dan komunikasinya sudah lumayan, coba kalau masih blepotan pastilah calon istrinya langsung ngacir alias menolak, tapi si Pengamat rupanya sudah cerdik. Ternyata karena dipengaruhi oleh pergaulan ia selama ini dengan banyak penggiat filsafat dan belakangan ia pun mulai melirik tasawuf serta irfan maka wajar saja ada perubahan dari dirinya.

Di suatu malam Si Pengamat punya banyak masalah keluarga, ia gelisah dan mencoba menenangkan dirinya, ia melaju menyusuri jalan-jalan yang ia sendiri bingung mau kemana, ketika lelah sudah menghinggapinya, ia mampir di warung di sekitaran Pulau Gadung, tak disangka ia bertemu sesamanya orang-orang Makassar,

“Oee sarebbattang…ann tenkanmma anjomae..(Halo saudara..bagaimana keadaanmu..?)” Kata si Daeng Giok, penunggu warung komunitas Makassar.

“Baik Daeng..”

“Tapi kok kamu kayak gelisah, mmhh…banyak masalah ya?..Nah..!!!, bagaimana kalau kita minum Ballo(tuak), ini susah di cari disini, sangat langka cess, dengan minum kita mabok dan masalah hilang…hahaha..” Bujuk Daeng Giok…

“Aduhh…daeng.. Sorry…saya sudah sangat mabuk ini, dari semula datang ke tanah Jawa hingga ke Jakarta ini Saya sudah sangat Mabok!” jawab Si Pengamat Enteng yang membuat si Daeng Giok bingung.

“Mabok?, tapi kenapa tidak sempoyongan dan masalah hilang?, kalau sering mabok kan masalah makin hilang toh?”

“Justru ini saya makin mabok dan masalah tidak akan hilang selamanya kalau minum tuak, Dengan mabok filsafat semakin nikmat maboknya Daeng Giok, nikmatnya luar biasa Daeng… ” si Pengamat seperti mendarat di kawasan ketidakwarasan, Daeng Giok makin keheranan dan makin bingung, kata yang jarang didengarnya tiba-tiba seperti mengalami keseleo otak.

“Mabok Filsafat?, itu jenis tuak baru ya?, kata tetangga disebelah new edition?, wah boleh coba tuh” Daeng Giok penasaran.

Si Pengamat menyodorkan buku Daras Filsafat Islam, Daeng Giok membolak-balikkannya, mungkin mengira dalam buku itu ada paket mabuk-an yang terselip, semacam ganja atau serbuk yang dicampur ke dalam tuak dan maboknya berlangsung lama…

source gambar dari https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTPYGZI5t8IUSGIbUHuThgMJ8auABg591VIVVfL-il4zGDYiwhYcrDZis7

About haerul said

Check Also

Berkah

Muhammad Rusli Malik (Penulis Tafsir Al-Barru) Kata berkah menyusul kata rahmat tidak cuma di dalam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *