Home / Kiat / Mendekati Tuhan
Ini air zam-zam yang telah dikemas, karena postingan ini bercerita tentang air dan si Haus, maka inilah mungkin gambar yang memadai. :-)

Mendekati Tuhan

Untuk mendekati Tuhan dibutuhkan kerendahan diri atau meruntuhkan dinding tebal kesombongan. Ketika Tuhan berfirman “Bersujudlah kamu dan dekatilah (AKU)”, itu artinya lepaskanlah baju egomu dan tersungkurlah di hadapanNya , maka kedekatan otomatis terjadi, sebab tak ada yang patut dibanggakan dihadapanNya. Sujud berarti kepala anda di bawah menyentuh tanah sementara bokong anda lebih tinggi dari kepala, tanda kita lemah dan rendah di hadapanNya.
Dalam Matsnawi, Buku Kedua, kuplet 1192-1211, Rumi mengisahkan seorang lelaki yang kehausan sedang berada di atas tembok tinggi, di bawah tembok itu ada sungai kecil dengan air yang jernih. Untuk menggapai air itu, ia meruntuhkan batu-batu satu demi satu hingga terjadi bunyi percikan air yang terdengar di telinganya seperti kalimat mesra dari seorang sahabat yang sangat dicintainya. Untuk mendapatkan bunyi percikan air lagi, si Lelaki itu menjatuhkan lagi batu-batu dinding itu semakin bersemangat.

Dari air pun suara keras dijeritkan
“Apa untungnya batu-batu itu kau jatuhkan?”

Si haus itu berkata : wahai air, karena ada dua faedah
Sehingga tidak mungkin dari pekerjaan ini aku berpindah

Faedah pertama ialah kala gemercik air kedengaran
Bunyinya semerdu rebab bagi orang kehausan

Suara itu bagiku telah menjadi terompet Israfil nanti
Ketika dengan satu tiupan dihidupkan yang sudah mati

Atau suara itu seperti gemuruh guntur di musim semi
Sehingga taman-taman merias diri dengan hiasan asri

Atau bagaikan hari-hari pembagian bagi fuqara
Atau bagaikan pesan pembebasan bagi narapidana

Atau bagaikan tarikan nafas Al-Rahman
yang tanpa mulut berembus ke Muhammad dari Yaman

Atau bagaikan wewangian Ahmad, Sang Utusan
yang tercium para pendosa saat pensyafaatan

Atau bagaikan semerbak harum Yusuf yang jelita
yang menyentuh jiwa Ya’qub yang kurus karena derita

Faedah lain : untuk setiap bantuan yang kuruntuhkan
dengan air yang mengalir aku makin didekatkan

Karena makin banyak batu-bata yang patah
Tembok tinggi makin bertambah rendah

Merendahkan tembok mengantarkan aku kepada tirta
Untuk menyatu aku harus berpisah dengan batu-bata

Seperti melakukan sujud, batu-bata runtuhkanlah
Sebab untuk dekat Dia, “Bersujudlah dan mendekatlah”

Selama tembok ini menjulang pongah jemawa
Selama itu ia menjadi penghalang rebah kepala

Tidak mungkin bersujud pada air kehidupan
Sebelum melepaskan diri dari jasad kebumian

Begitulah Rumi mengisahkan, kita tidak akan bisa berjalan mendekati Allah yang maha pengasih dan penyayang sebelum kita menghilangkan hal-hal yang dibenci Allah, seperti : melewati batas, melakukan kezaliman, berlebih-lebihan, dan congkak atau menyombongkan diri. Itu semua berasal dari jasad kebumian yang terbuat dari tanah lumpur.

 

Masihkah diri bisa menyadari siapa hakikatnya?, begitu sulitkah kesadaran menyamai hakikat diri?.

 

Ini air zam-zam yang telah dikemas, karena postingan ini bercerita tentang air dan si Haus, maka inilah mungkin gambar yang memadai. 🙂

About haerul said

Check Also

Berkah

Muhammad Rusli Malik (Penulis Tafsir Al-Barru) Kata berkah menyusul kata rahmat tidak cuma di dalam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *