Home / Renungan / Merawat dan Mengokohkan Keberagaman
Kita tak pernah berkesempatan meminta kepada Tuhan, hendak dijadikan ras, suku, dan bangsa apa pun, meminta lahir di daerah mana, dan bahasa apa pun.

Merawat dan Mengokohkan Keberagaman

KEBERSAMAAN adalah bagian yang tak terpisahkan dari pergulatan perjuangan bangsa Indonesia meraih kemerdekaan. Jauh sebelum Indonesia merdeka, bangsa kita telah hidup rukun dan tenteram dalam kebersamaan yang bernuansa keberagaman.

Bhinneka Tunggal Ika, yang sekarang menjadi semboyan bangsa kita, adalah penanda yang sangat jelas, betapa sesungguhnya keberagaman yang ada di Indonesia tak pernah menjadi persoalan. Justru keberagaman adalah anugerah Tuhan yang sangat besar bagi Indonesia karena dari keberagaman ini kita bisa memahami arti dan makna dari persaudaraan.

Indonesia yang dihuni beragam suku, ras, agama, budaya, bahasa, dan segenap perbedaan lainnya adalah jalan sejati yang harus kita lalui sebagai jalan masa depan merajut tenun kebangsaan kita. Bila tidak, riak-riak perpecahan bukan sesuatu yang tidak mungkin bakal membesar.

Belakangan ini kita semakin riuh diberi tontonan berbagai fakta yang bisa menjadi pemicu retaknya tenun kebangsaan kita. Salah satu penyebabnya adalah berita hoax yang menjadi viral di media sosial merupakan fakta nyata yang bisa mengancam ikatan persaudaraan kita sebagai bangsa yang besar.

Mari kita menyelami lebih jauh akar filosofis falsafah kebangsaan kita, yakni Pancasila. Dari sana kita akan menemukan bangunan nilai kemanusiaan sebagai jangkar yang menjadi perekat persaudaraan kita.

Itulah mengapa Bung Karno dalam rumusan Pancasila menjadi internasionalisme sebagai dasar negara kita. Internasionalisme atau perikemanusiaan merupakan bangunan nilai yang harus menjadi pijakan bersama bagi kita sebagai sebuah bangsa.

Internasionalisme bukanlah kosmopolitanisme yang bakal menggerus adanya kebangsaan atau nasionalisme. Internasionalisme adalah jalan bersama bagi kita bukan hanya dalam konteks kebangsaan, namun juga dalam upaya ikut serta menjaga perdamaian dunia seperti amanah Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Kita sadar betul, dalam satu dunia kita berbeda bangsa dan negara. Dalam satu bangsa dan negara kita berbeda suku dan bahasa. Dalam satu suka dan bahasa kita berbeda keyakinan dan agama. Dalam satu keyakinan dan agama kita berbeda paham dan aliran.

Dalam satu paham dan aliran kita berbeda pemahaman. Dalam satu pemahaman kita berbeda pengamalan. Dalam satu pengamalan kita berbeda penghayatan. Dalam satu penghayatan kita berbeda keikhlasaan. Dalam satu keikhlasan inilah kita seharusnya satu dalam pengabdian.

Artinya, hal mendasar yang harus kita bangun dalam diri adalah keikhlasan menerima pelbagai keberagaman yang ada di hadapan kita sebagai bangsa. Keikhlasan ini bakal tumbuh dalam diri kita, kalau kita bisa memahami dengan baik nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi jangkar terwujudnya persaudaraan kita sebagai bangsa yang besar.

Membangun Indonesia bukan hal yang mudah, keberagaman yang begitu banyak akan menjadi ancaman bila tak bisa dikelola dengan baik. Sebaliknya, jika kita bisa memaknai keberagaman ini, akan menjadi anugerah yang sangat besar bagi kita sebagai sebuah bangsa.

Founding fathers kita telah membuktikan keberhasilannya merekatkan persaudaraan sebangsa-senegara melalui semboyan Bhinneka Tunggal Ika, falsafah Pancasila, dan konstitusi UUD 1945. Akar kebangsaan kita yang dimulai dari hadirnya Sarekat Islam 1905, Budi Utomo 1908, Sumpah Pemuda 1928, hingga Proklamasi Kemerdekaan 1945 adalah sejarah panjang perjuangan founding fathers  dalam menegakkan kedaulatan kita sebagai bangsa yang besar.

Ketika muncul riak-riak keinginan merusak tenun kebangsaan kita, baik dari motif agama, suku, daerah ataupun motif yang lainnya, kita seperti menyaksikan tangis bumi pertiwi Indonesia Raya yang dibangun dari peluh dan darah para pahlawan.

Tiba-tiba saja, seenaknya mereka berkuasa seperti pemilik tunggal republik ini ingin mengacaukan rekatnya persaudaraan kita meski berbeda latar ras, suku, bahasa, agama, budaya, dan daerah.

Kasus-kasus yang mengarah ke separatisme baik atas nama agama, suku, serta pelbagai kepentingan yang sampai kini kadang-kadang masih muncul ke permukaan menjadi penanda retaknya persaudaraan kita. Belum lagi serangkaian fanatisme buta keberagamaan yang senantiasa menghantui kehidupan kita.

Beberapa kali penangkapan rencana terorisme yang muncul belakangan ini sering menjadikan agama sebagai tameng tindakan brutalnya. Mereka melecehkan nilai-nilai ketuhanan demi tegaknya ego politik keberagamaan yang dianutnya. Mereka mungkin lupa, kalau beragama sejatinya adalah belajar menjadi manusia yang sesungguhnya.

Menjadi manusia yang sesungguhnya adalah menjalankan kodrat hidup, bahwa setiap orang ingin dihargai. Karena itu, bila kita ingin  dihargai oleh orang lain maka kita harus menghargai orang lain. Termasuk menghargai kodrat hidup setiap manusia.

Kita tak pernah berkesempatan memilih dan meminta kepada Tuhan, hendak dijadikan ras, suku, dan bangsa apa pun. Begitu pun kita tak berkesempatan meminta lahir di daerah mana, budaya, dan bahasa apa pun. Itulah kodrat hidup. Kita tiba-tiba saja lahir dan harus menjalankan hidup penuh syukur dan menghargai keberagaman ini.

Pada sisi lain, ada kebebasan manusia yang diberikan oleh Tuhan, sebagai tanggung jawab yang harus dijalankannya. Termasuk di dalamnya adalah memilih keyakinan  dan agama.

Manusia memiliki kebebasan penuh untuk menganut keyakinan apa pun. Kebebasan ini pun adalah kodrat manusia yang diberikan Tuhan. Karena itu, apa pun pilihan orang lain itu adalah hak mereka.

Kita tak bisa memaksa siapa pun berkeyakinan dan beragama sama dengan kita. Kalau kita sadar hak dan kewajiban ini, niscaya bentrok dan konflik yang mengganggu harmoni kebangsaan kita tak akan terjadi.

Selama ini kita sering sangat egois, hendak menjadikan dunia satu wajah; sedangkan Tuhan telah menggariskan keberagaman ini sebagai jalan bersama yang harus dikelola dan disyukuri dengan baik. Indonesia adalah keberagaman yang banyak.

Tanpa perbedaan itu bukan Indonesia. Kita hanya perlu ikhlas untuk mengabdi bahwa kita memang dilahirkan berbeda. Dari perbedaan ini kita bisa menyaksikan hadirnya Indonesia Raya yang warna-warni, sebagai simbol keagungan dan kekayaan Tuhan. Kita saudara, bangsa Indonesia.

Imam Safe’i
Direktur PAI Ditjen Pendis Kemenag RI

About diana

Check Also

Rahmat

*Muhammad Rusli Malik (Penulis Tafsir Al-Barru) Saking populernya kata ini sehingga banyak orang di masyarakat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *