Home / Peristiwa / Tips Mendeteksi Hoax di Dunia Maya
Semakin mudahnya akses internet dan kemajuan teknologi komunikasi membuat kita bisa saling berinteraksi satu sama lain menembus batas antarwilayah.

Tips Mendeteksi Hoax di Dunia Maya

Semakin mudahnya akses internet dan kemajuan teknologi komunikasi membuat kita bisa saling berinteraksi satu sama lain menembus batas antarwilayah.

Begitu juga berbagai berita lalu lalang di dunia internet dan bebas menyeruak ke gadget kita. Mulai dari berita olahraga, ekonomi, informasi bencana hingga berita politik, bahkan beragam tips gaya hidup sehat mewarnai lalu lintas informasi.

Ada berita yang positif mengedukasi publik tentang program-programn yang akan dilaksanakan kalau kelak terpilih, tetapi tidak sedikit pula berita yang isinya mendiskreditkan pihak pasangan tertentu.

Informasi tersebut juga melibatkan nama sejumlah pejabat negara untuk meyakinkan pembaca bahwa beritanya valid.

Tapi … eits, tunggu dulu!

Bukankah merupakan sikap yang bijak untuk memeriksa terlebih dulu apakah berita tersebut asli atau palsu alias hoax? Jika berita yang kita bagikan secara retweet, forward, share, atau broadcast terbukti berita palsu, kita akan dikenal sebagai orang yang bodoh.

“Jika berita yang kita bagikan secara retweet, forward, share, atau broadcast terbukti berita palsu, kita akan dikenal sebagai orang yang bodoh”

Sekilas sih maksudnya baik. Kita mencoba berbagi informasi agar masyarakat bisa lebih waspada, tetapi apa yang terjadi? Justru orang akan makin kalut akibat pesan berantai yang tdak jelas kebenarannya. Jika memang berita tidak terklarifikasi dengan benar, alangkah baiknya jika pesan informasi tersebut berhenti di tangan kita dan tidak perlu disebarkan lagi.

Lantas, bagaimana mengindikasi sebuah pesan tersebut adalah hoax?

Cara yang paling mudah mengenali ciri-ciri berita hoax adalah dengan membaca secara cermat dan menyeluruh pada setiap bangunan kata dan kalimat yang disusun. Kemudian menandai kejanggalan – kejanggalan dengan pedoman berikut ini:

  1. Berita pertama kali didistribusikan melalui email, mailing list, forum, blog, facebook, yang kemudian disebarluaskan via twitter.
  2. Isinya bertentangan dengan logika umum dan ilmu pengetahuan atau terdapat kontradiksi dengan fakta yang sudah umum diketahui.
  3. Menggunakan istilah yang terkesan ilmiah, yang memanfaatkan ketidaktahuan/keawaman pembaca.
  4. Bangunan kalimat yang mendorong pembaca untuk menyebarluaskan pesan tersebut.
  5. Sumber berita tidak jelas identitasnya.
  6. Tidak ada link sumber untuk informasi yang dianggap penting. Penulis yang baik pasti mencantumkan sumber ilmiah dalam tulisannya.
  7. Jika tidak dicantumkan sumber maka waspadalah terhadap keilmiahan artikel tersebut.
  8. Setelah berita tersebut ditandai pada bagian-bagian yang dianggap janggal, bila dirasa hanya berdampak kecil atau sebagai hiburan saja, maka kita bisa menyetop penyebarannya pada kita. Tidak perlu menyebarluaskannya.

“Sikap kita sebagai warga negara yang baik adalah membantu menciptakan suasana kondusif kembali melalui upaya pembuktian kebenaran berita tersebut ke masyarakat”

Namun, bila berita tersebut berdampak besar, membuat masyarakat resah, sikap kita sebagai warga negara yang baik adalah membantu menciptakan suasana kondusif kembali melalui upaya pembuktian kebenaran berita tersebut ke masyarakat. Langkah-langkah mencari kebenaran informasi adalah sebagai berikut:

Pertama, informasi melalui apa pun, sebaiknya ditanyakan kepada pihak yang mengetahui betul persoalannya. Kita bisa menghubunginya langsung melalui akun sosial media miliknya, cari informasi tentang akun twitter atau facebook pihak terkait yang berhubungan dengan isi berita tersebut untuk mendapatkan konfirmasi lebih cepat. Menelepon langsung juga bisa.

Kedua, bila tidak mempunyai akses komunikasi dengan pihak terkait untuk langkah pertama, kita bisa langsung searching via google di internet. Bandingkan berbagai informasi yang sama terkait dengan berita yang diterima.

Bisa jadi saat kita melakukan pencarian, ternyata sudah ada link informasi atas klarifikasi berita tersebut. Sebagai pertimbangan, pastikan berita yang kita investigasi tersebut telah dimuat pada kantor-kantor berita besar, bukan blog pribadi atau forum bebas yang tidak jelas kredibilitasnya.

Untuk investigasi berita yang memuat gambar, Google juga menyediakan fitur Google Image sebagai petunjuk darimana pertama kali gambar tersebut berasal.

Ketiga, periksa sumber. Sumber biasanya dicantumkan di akhir tulisan. Penulis yang baik dan bertanggungjawab atas isi tulisannya biasanya mencantumkan sumber tulisannya. Kecuali tulisan tersebut hanyalah opini pribadi, bukan berita investigasi. Bangunlah korespondensi dengan sumber tersebut bila ia memiliki akun sosial media.

Keempat, bila informasi tersebut berupa artikel yang terkesan ilmiah dan masuk akal yang mengutip pendapat dari ilmuwan ternama, maka pastikan kebenaran artikelnya melalui sumber-sumber primer dunia ilmiah.

Misalnya jurnal ilmiah/akademis yang diterbitkan institusi ilmiah tertentu, artikel yang terdapat pada website resmi perguruan tinggi, dan buku-buku teks akademis. Kita beruntung karena Google menyediakan fitur Google Scholar dan Google Books untuk memudahkan pencarian jurnal atau buku ilmiah.

Kelima, mencoba mengetikkan kata kunci artikel dalam bahasa Inggris. Beberapa artikel hoax kebanyakan bermula dari luar negeri. Maka cobalah mengecek artikel yang Anda curigai hoax di situs-situs luar negeri. Banyak berita hoax yang sudah dibuktikkan ke-hoax-annya oleh situs luar negeri. Namun, oleh penyebar hoax lokal, hoax tersebut diterjemahkan, diangkat lagi, bahkan dimodifikasi isinya seperti perubahan nama pelaku dan tempat untuk konsumsi masyarakat Indonesia.

Ada dua media asing yang paling bertanggung jawab dalam penyebaran hoax artikel-artikel ilmiah di Indonesia, yaitu The Onion dan Weekly World News. Bila sebuah informasi yang setelah ditelusuri pangkalnya adalah berasal dari situs tersebut,a patut diduga hoax. Sekedar informasi, The Onion adalah website yang berisi berita-berita parodi.

“Ada dua media asing yang paling bertanggung jawab dalam penyebaran hoax artikel-artikel ilmiah di Indonesia, yaitu The Onion dan Weekly World News”

Yap, demikianlah. Mari sama-sama menjadi orang yang tidak mudah tertipu oleh sebuah berita. Mari bersikap kritis dan skeptis terhadap seluruh informasi yang diterima, sekalipun informasi itu berasal dari sumber yang paling kredibel.

Sikap kritis dan skeptis akan membawa kita untuk selalu ingin tahu. Sifat selalu ingin tahu akan membangkitkan semangat belajar sehingga pengetahuan juga semakin bertambah.

Sekedar mengingatkan kembali, konfirmasi dulu sebelum Anda retweet, forward, shared atau broadcast! Jangan bangga menjadi terdepan mengabarkan berita sensasional yang isinya belum tentu benar.

Sebab, pesan berantai diinternet sulit sekali pengendalian penyebarannya dan justru sangat membahayakan jika hanya merupakan hoax. Andapun juga berpotensi dijerat pasal UU ITE.

Ada kabar baik di dunia twitter. Saat ini sedang dikembangkan sebuah alat bantu untuk mendeteksi kebohongan kicauan atau tweet penggunanya yang bernama Pheme.

Aplikasi ini akan langsung mendeteksi sumber berita yang disebarkan lalu menganalisis percakapan terkait kicauan itu. Selain itu, Pheme bisa mendeteksi aplikasi yang digunakan oleh si pengicau.

Nantinya, Pheme bisa mendeteksi tingkat emosional sebuah tulisan. Pheme juga bisa mendeteksi rumor yang beredar di twitter dan menjadi acuan jika kabar serupa kembali beredar. Aplikasi yang menarik ini masih dalam tahap pengembangan dan penyempurnaan. Kita doakan semoga segera diluncurkan. /selasar

About diana

Check Also

NIAT BAIK ANIES TERAPKAN KEBIJAKAN DP 0% PERUMAHAN BAGI WARGA JAKARTA DITOLAK MENTAH-MENTAH BANK INDONESIA

BUKANHOAX.COM – Beberapa waktu lalu, pasangan calon pimpinan daerah di DKI Jakarta menyatakan rencananya untuk …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *